كان ذلك الصباح مشرقًا جدًا. الأوضاع في قرية مليخون مزدحمة كالمعتاد. في ذلك اليوم كان جدول أعمالنا هو استكشاف تاريخ القرية. قمنا بدراسة واستكشاف سجلات قرية ملينجون لمعرفة وفهم أصول قرية ملينجون بشكل أكثر وضوحًا. هذه الخطوة هي البداية قبل تجميع كتاب عن تاريخ قرية مليخون.

Dari beberapa keterangan yang diterima sampailah kami di rumah seorang keturunan Mbah Demang Mlinjon yakni Mbah Setu, 84,. Kami pun berbincang cukup lama dengan beliaunya akan hal ini beliau diwarisi sebuah tombak di mana tombak itulah yang menjadi bukti prasejarah adanya sebuah desa dikaki bukit yaitu Mlinjon.

Konon tombak tersebut banyak digunakan oleh para leluhur untuk melawan penjajah. Dulu ketika jaman penjajahan Belanda tombak tersebut ditancapkan di perbatasan Mlinjon dengan Desa Pringapus. لذا, dengan ditancapkan tombak tersebut para tentara Belanda dikelabui dengan adanya alas atau hutan-hutan yang menutupi desa tersebut sehingga tentara Belanda mengira bahwa di dalam hutan tersebut sudah tidak ada desa atau masyarakat lagi.

Kemudian tombak tersebut juga sering dibawa ke pendopo Kabupaten Trenggalek dengan segala macam kegiatan nya. Kesakralan tombak itu tetap dijaga oleh para keturunanya. Harapannya anak cucu masih bisa merasakan dan menikmati peninggalan dari para leluhur. (*)

يغلق