
Tulungagung — Kementerian Agama RI melalui Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (PUSPENMA) menegaskan komitmennya untuk mencetak kader Penggerak Moderasi Beragama dan Ekoteologi di berbagai lembaga pendidikan keagamaan. Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala PUSPENMA, Ruchman Basori, saat memberikan materi Pelatihan Moderasi Beragama dan Internalisasi Ekoteologi di UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN واحد) تولونجاجونج, جمعة (21/11/2025).
Ruchman menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas para aktor utama pendidikan keagamaan—dosen, guru, kiai, dan ustadz—menjadi syarat penting agar mereka mampu berada di garda terdepan dalam penguatan moderasi beragama dan pengarusutamaan ekoteologi.

“Para aktor pendidikan keagamaan harus ditingkatkan kapasitas dan kualitasnya, sehingga siap menjadi penggerak moderasi beragama dan ekoteologi,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pelatihan ini dirancang untuk melahirkan kader yang cakap dan terampil dalam mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama dan ekoteologi di lembaga masing-masing. Pelatihan tersebut merupakan program non-degree yang dibiayai oleh LPDP tahun anggaran 2025. الى جانب ذلك, terdapat pula Pelatihan Multimedia Pesantren dan Program Language and Academic Preparation (LAPP) bagi calon awardee Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) jenjang S2 dan S3 luar negeri.
UIN SATU Tulungagung kembali mendapat kepercayaan sebagai Perguruan Tinggi Penyelenggara (PTP) Pelatihan Moderasi Beragama dan Internalisasi Ekoteologi tahun 2025. Selain UIN SATU, Kemenag juga menunjuk tiga PTKIN lain, yaitu UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Sunan Kudus, dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pelatihan tingkat nasional ini berlangsung selama tujuh hari, pada 19–25 November 2025, dan diikuti oleh 60 peserta dari berbagai provinsi, satker Kemenag, perguruan tinggi keagamaan, guru, tenaga kependidikan, serta perwakilan pondok pesantren. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Rektor UIN SATU Tulungagung, Prof. Dr. Abd. Aziz, M.A.
Dalam sambutannya, Prof. Aziz menegaskan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang kaya keberagaman agama, budaya, dan keyakinan. Karena itu, moderasi beragama bukanlah upaya menciptakan ajaran baru, melainkan memastikan praktik beragama yang adil, berimbang, dan tidak saling meniadakan.
“Moderasi beragama bukan berarti membuat agama baru, tetapi memastikan cara kita beragama tetap adil, proporsional, dan menghargai perbedaan,” ujarnya.
Lebih jauh, Prof. Aziz menekankan pentingnya ekoteologi sebagai bentuk tanggung jawab spiritual manusia sebagai khalifah fil ardhi. Kesadaran ekologis itu ia ilustrasikan melalui refleksi sederhana: dari satu butir nasi yang kita makan, terdapat proses panjang dan keterlibatan banyak tangan—sesuatu yang sering terabaikan oleh generasi yang serba instan.
Rektor juga menyinggung konsep Religreen, gagasan Menteri Agama, sebagai bentuk nyata integrasi nilai keberagamaan dan kepedulian lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Di akhir sambutannya, Prof. Aziz menyampaikan apresiasi kepada PUSPENMA Kemenag atas kepercayaan yang kembali diberikan kepada UIN SATU Tulungagung sebagai penyelenggara pelatihan nasional tersebut.
*Humas UIN SATU Tulungagung



