
تولونجاجونج, 21 أكتوبر 2025 — معهد البحوث وخدمة المجتمع (LP2M) تعقد جامعة UIN السيد علي رحمة الله تولونجاجونج مرة أخرى أنشطة استراتيجية لتعزيز ثقافة الاعتدال الديني في الحرم الجامعي وفي المجتمع. يقع في مبنى Prajnaparamita, نشاط بعنوان "الحوار حول الوئام بين الأديان".: Peacebuilding and Ecotheology” ini menjadi ruang perjumpaan lintas iman yang sarat makna dan refleksi.
Melalui tajuk tersebut, tersirat semangat baru untuk meningkatkan kapasitas dialog antarumat beragama ke level yang lebih maju dan substantif. Tidak sekadar menjadi ajang berbagi pandangan teologis, dialog kali ini diarahkan untuk mendorong aksi nyata bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup sebagai manifestasi nilai-nilai kemanusiaan universal.
Ketua Pusat Moderasi Beragama UIN SATU Tulungagung, Dr. Syamsul Umam, menjelaskan bahwa gagasan ini lahir dari keresahan terhadap bentuk-bentuk dialog yang selama ini cenderung bersifat seremonial. “Kami ingin menghadirkan format dialog yang lebih hidup, tidak ‘basi,’ dan punya daya dorong sosial—yakni dialog yang berbuah tindakan bersama,” ujarnya.
Gagasan ini mendapat dukungan penuh dari Rektorat dan LP2M UIN SATU Tulungagung. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor III, Prof. Syamsun Ni’am, dan diawali sambutan dari Ketua LP2M, Prof. Ngainun Naim, yang menegaskan pentingnya menjadikan kampus sebagai motor penggerak perdamaian lintas iman.

Hadir dalam forum ini perwakilan dari berbagai agama dan keyakinan, meliputi Hindu Dharma, Buddha, Kristen, Katolik, dan Islam, serta perwakilan dari organisasi otonom Nahdlatul Ulama seperti Muslimat, Fatayat, dan Ansor, juga kalangan Penghayat Kepercayaan. Masing-masing tokoh menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka dalam merawat kerukunan dan menjaga keseimbangan alam.
Perwakilan Kristen, Pdt. Suprapto, secara khusus menyebut UIN SATU Tulungagung sebagai “Lokomotif moderasi beragama di Jawa Timur” karena konsistensinya dalam menggelar kegiatan lintas iman yang konstruktif.
Kegiatan ini menandai langkah penting UIN SATU Tulungagung dalam mengembangkan paradigma “Peacebuilding and Ecotheology” sebagai fondasi dialog lintas agama di masa depan—bahwa moderasi beragama tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi harus berbuah pada kerja nyata demi kemanusiaan dan kelestarian alam semesta.



