Belajar Dari Jepang Membangun Riset, Publikasi, Dan Jejaring Internasional

Tulungagung – Pusat Penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung menyelenggarakan UIN SATU Global Research Talk #1 secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin, 14 September 2026.

Mengangkat tema “Global Research Mindset: Lessons from Japan on Data Science, Publication, and International Networking,” kegiatan ini menghadirkan Muhammad Bisri Musthafa, Ph.D., Project Assistant Professor pada Center for Social Data Structuring, Research Organization of Information and Systems (ROIS), Tokyo, Jepang.

Kegiatan dipandu oleh Kepala Pusat Penelitian LP2M UIN SATU Tulungagung, Dr. Lailatuzz Zuhriyah, M.Fil.I. Acara dibuka dengan pembacaan Surat Al-Fatihah, dilanjutkan sambutan dan pengarahan Ketua LP2M UIN SATU Tulungagung, Prof. Dr. Ngainun Naim, M.H.I., paparan narasumber, sesi diskusi dan tanya jawab, serta penutup.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Ngainun Naim, M.H.I. menyampaikan bahwa Global Research Talk merupakan bagian dari kegiatan akademik LP2M untuk memperkaya pengetahuan, wawasan, dan perspektif sivitas akademika.

Pertemuan dengan Muhammad Bisri Musthafa bermula ketika peneliti asal Tulungagung tersebut pulang dari Jepang dan berkunjung ke LP2M UIN SATU Tulungagung. Pertemuan itu kemudian berkembang menjadi gagasan untuk menyelenggarakan forum berbagi pengetahuan dan pengalaman riset.

Prof. Naim menilai bidang kepakaran narasumber sangat relevan dengan kebutuhan pengembangan akademik UIN SATU Tulungagung, terutama setelah dibukanya Program Studi Sains Data.

Sebagai program studi baru, Sains Data memerlukan pengayaan perspektif agar dapat tumbuh sebagai program studi yang memiliki karakter kuat, berbeda, dan unggul.

“Pengalaman Mas Bisri yang sekarang berada di Jepang dengan keahlian spesifik dalam bidang sains data sangat penting bagi kita semua,” ujar Prof. Naim.

Ia juga menyoroti perubahan tantangan yang dihadapi masyarakat pada era digital. Jika pada masa lalu manusia mengalami kesulitan karena keterbatasan data, kini persoalan muncul akibat kelimpahan data yang belum selalu mampu diolah menjadi pengetahuan yang bermakna.

“Data itu berlimpah, tetapi belum tentu bermakna. Banyak orang justru mengalami kebingungan dengan kelimpahan data sehingga data itu kehilangan makna,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, Prof. Naim berharap peserta memperoleh pengetahuan yang lebih komprehensif dan operatif mengenai sains data, publikasi, serta pembangunan jejaring akademik. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan sumber daya manusia dan kelembagaan UIN SATU di tengah perubahan dunia penelitian yang semakin cepat.

Dalam paparannya, Muhammad Bisri Musthafa menjelaskan bahwa pola pikir riset global dibangun di atas empat orientasi utama, yaitu berpikir dalam perspektif global, melakukan riset secara kolaboratif, memublikasikan hasil penelitian kepada komunitas akademik internasional, dan menciptakan dampak yang nyata.

Ia memaparkan sejumlah karakter penting ekosistem penelitian di Jepang. Penelitian umumnya tumbuh melalui kelompok riset dan laboratorium yang kuat. Hasil penelitian juga diarahkan pada implementasi sosial, didukung oleh kolaborasi yang erat antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah.

Jepang memiliki investasi yang tinggi dalam bidang penelitian dan pengembangan, ekosistem riset dan industri yang mapan, serta dukungan pendanaan bagi kolaborasi internasional.

Sejumlah lembaga seperti Japan Science and Technology Agency (JST), Japan Society for the Promotion of Science (JSPS), Japan Agency for Medical Research and Development (AMED), serta New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) memainkan peran penting dalam mendukung penelitian.

Beberapa tema penelitian yang berkembang di Jepang meliputi kecerdasan buatan, Society 5.0, transformasi hijau, transformasi digital, masyarakat lanjut usia, pengurangan risiko bencana, kota cerdas, kesehatan, dan material maju.

Menurut Bisri, perguruan tinggi keagamaan Islam memiliki peluang besar untuk terlibat dalam kolaborasi penelitian internasional. Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui kajian keislaman, studi tentang Muslim sebagai kelompok minoritas, pendidikan Islam, ekonomi halal, moderasi beragama, dan pengembangan komunitas Muslim.

Paparan Bisri juga menempatkan sains data sebagai salah satu bahasa baru dalam penelitian lintas disiplin. Sains data tidak terbatas pada bidang komputer atau statistik, tetapi dapat digunakan untuk memperluas metode penelitian dalam ilmu sosial, humaniora, pendidikan, dan studi keislaman.

Beberapa metode yang dapat dikembangkan meliputi pengolahan big data, survei dan analisis kuantitatif, analisis bibliometrik, analisis jejaring sosial, text mining, sistem informasi geografis, penelitian dengan bantuan kecerdasan buatan, serta etnografi digital. Integrasi metode tersebut membuka peluang lahirnya pertanyaan dan model penelitian baru.

Dalam konteks publikasi, Bisri menekankan pentingnya membangun publication mindset sejak awal penelitian. Proses publikasi dimulai dari perumusan pertanyaan penelitian dan penentuan jurnal yang dituju. Setelah itu, peneliti menyiapkan data, melakukan analisis, menyusun manuskrip, dan mengirimkannya kepada jurnal.

Publikasi juga tidak seharusnya dipandang sebagai tujuan akhir. Artikel ilmiah dapat meningkatkan visibilitas akademik, memperluas jaringan internasional, membuka undangan kolaborasi, serta memperbesar peluang memperoleh pendanaan penelitian.

Publikasi juga dapat menjadi pintu masuk menuju pembentukan konsorsium riset, penyusunan proposal bersama, serta peningkatan sitasi dan dampak penelitian.

Jejaring internasional dapat dibangun melalui berbagai bentuk kegiatan, antara lain supervisi bersama, pertukaran mahasiswa, studi magister atau doktoral, penelitian bersama, program profesor atau peneliti tamu, seminar bersama, dan publikasi kolaboratif.

Bisri turut menjelaskan peluang pendanaan kolaborasi Indonesia–Jepang melalui skema kerja sama JSPS dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta skema joint call for proposals antara JST dan BRIN.

Bagi dosen dan mahasiswa yang ingin melanjutkan studi di Jepang, langkah awal yang perlu dilakukan ialah menentukan bidang spesialisasi dan mencari kelompok riset yang sesuai dengan latar belakang akademik.

Calon mahasiswa kemudian dapat menghubungi profesor secara langsung melalui surat elektronik yang ringkas dan jelas, mempersiapkan presentasi rencana penelitian, serta mendiskusikan peluang studi dan beasiswa.

Selain kolaborasi antarlembaga, penelitian juga dapat melibatkan komunitas Muslim dan diaspora Indonesia di Jepang. Narasumber menawarkan perubahan paradigma dari “penelitian tentang masyarakat” menuju “penelitian bersama masyarakat” serta dari penelitian yang berhenti pada keluaran akademik menuju penelitian yang memberi dampak bagi komunitas.

Organisasi pelajar, masjid dan pusat Islam, organisasi masyarakat Indonesia, serta komunitas pekerja migran dapat menjadi mitra penelitian.

Isu yang dapat dikembangkan mencakup pendidikan dan penguatan identitas Muslim, ekosistem halal, kesehatan mental, pemberdayaan komunitas, dan kehidupan masyarakat digital.

Peluang tersebut juga dapat diperluas melalui program KKN internasional yang merespons kebutuhan masyarakat Muslim dan diaspora Indonesia di Jepang.

Sebagai tindak lanjut, peserta didorong untuk mengidentifikasi minat penelitian yang dapat mempertemukan perguruan tinggi Indonesia, universitas atau peneliti Jepang, dan komunitas Muslim.

Komunikasi awal dapat dibangun melalui surat elektronik, pertemuan daring, seminar riset, atau program kunjungan. Hubungan tersebut selanjutnya diarahkan pada penyusunan pertanyaan penelitian bersama, desain riset, strategi pengelolaan data, target publikasi, dan proposal pendanaan.

Sesi paparan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Para peserta memperoleh kesempatan untuk mendalami pengalaman riset di Jepang, strategi membangun komunikasi dengan peneliti internasional, peluang studi lanjut, serta kemungkinan pengembangan kerja sama penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Menutup kegiatan Global Research Talk #1, Lailatuzz Zuhriyah menyampaikan apresiasi kepada Muhammad Bisri Musthafa atas kesediaannya berbagi pengetahuan dan pengalaman. Ia berharap kegiatan tersebut tidak menjadi pertemuan terakhir, tetapi berkembang menjadi komunikasi dan kolaborasi berkelanjutan.

UIN SATU Global Research Talk diharapkan menjadi forum akademik berkala yang mempertemukan sivitas akademika UIN SATU dengan para peneliti dan akademisi dari berbagai negara.

Melalui forum ini, LP2M UIN SATU berupaya memperkuat budaya riset, meningkatkan kualitas publikasi, serta membuka jejaring kolaborasi yang mendukung terwujudnya ekosistem penelitian yang berdampak dan bereputasi global.

Close