
تولونج أجونج — لا يزال الالتزام بتعزيز المدارس الشاملة الذي تم تحديده سابقًا من خلال توقيع اتفاقية تعاون في مكتب كاليداوير الإشرافي، تتم متابعته بشكل ملموس من قبل LP2M UIN السيد علي رحمة الله تولونج أجونج مع KKMI-KKRA منطقة كاليداوير وفتايات NU تولونج أجونج.
بعد ستة أيام من توقيع اتفاقية التعاون, على وجه التحديد 19 مي 2026, jajaran Pengurus KKMI-KKRA Kecamatan Kalidawir bersama Ketua Fatayat NU Tulungagung melakukan kunjungan tindak lanjut ke kantor LP2M UIN SATU Tulungagung guna membahas langkah strategis implementasi program kolaboratif berbasis inklusi.
Rombongan disambut langsung oleh Plh. رئيس LP2M UIN SATU Tulungagung, دكتور. ليلة الزهرية, م.فيل., didampingi Kepala PSGAD Dra. امي زهره, م.كيس., دكتوراه., beserta tim PSGAD, yakni Dr. سامسول الرفاعي, دكتوراه في الطب. و د. زولفا عصماواتي, دكتوراه في الطب..
Pertemuan berlangsung hangat dan produktif dengan fokus pada penyusunan program-program prioritas yang akan segera direalisasikan dalam pengembangan madrasah inklusif di lingkungan KKMI dan KKRA Kecamatan Kalidawir.
Salah satu agenda yang akan segera dilaksanakan adalah pelatihan volunteer difabel yang diselenggarakan oleh LP2M UIN SATU Tulungagung. Program tersebut nantinya tidak hanya melibatkan mahasiswa dan relawan, tetapi juga mengikutsertakan guru-guru madrasah dan RA sebagai bagian dari penguatan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan pendidikan inklusif.
الى جانب ذلك, dalam pertemuan tersebut juga dirumuskan rencana kegiatan pengabdian kepada masyarakat kolaboratif bertema inklusi. Program tersebut akan dikembangkan melalui berbagai skema, di antaranya KKN Inklusi, pendampingan madrasah, hingga pelatihan pengelolaan madrasah inklusif dengan melibatkan tenaga expert dari UIN SATU Tulungagung maupun Fatayat NU.
الثابتة والمتنقلة. رئيس LP2M UIN SATU Tulungagung, دكتور. Lailatuzz ZuhriyahM.Fil.I., menyampaikan bahwa tindak lanjut ini menjadi bukti bahwa kerja sama kelembagaan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen administratif semata, tetapi diarahkan pada implementasi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lembaga pendidikan.
وفقا له, pengembangan madrasah inklusif membutuhkan kerja kolaboratif lintas lembaga, terutama dalam menyiapkan ekosistem pendidikan yang lebih ramah terhadap anak, difabel, serta keberagaman sosial dan budaya.
“Pengembangan madrasah inklusif tidak cukup hanya pada aspek kebijakan, tetapi juga membutuhkan penguatan kapasitas SDM, pendampingan kelembagaan, dan keterlibatan banyak pihak secara berkelanjutan. بسبب ذلك, kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi model penguatan pendidikan inklusif berbasis kemitraan,قال.
Melalui pertemuan ini, LP2M UIN SATU Tulungagung bersama KKMI-KKRA Kalidawir dan Fatayat NU Tulungagung berharap lahir berbagai program inovatif yang mampu memperkuat budaya inklusivitas di lingkungan madrasah, sekaligus mendukung terwujudnya pendidikan Islam yang moderat, ramah, dan berkeadilan sosial. (الزيت)



