
Kupang, East Nusa Tenggara — Kepala Pusat Penelitian LP2M Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN ONE) Tulungagung, Dr. Lailatuzz Zuhriyah, M.Fil.I., memaparkan Model Ekologi Harmoni Sekolah sekaligus hasil uji coba terbatas Aplikasi Sekolah Harmoni (ASH) dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Validasi Hasil Uji Coba Terbatas Aplikasi Sekolah Harmoni yang diselenggarakan di Kelimutu Meeting Room, Neo El Tari Hotel Kupang, Tuesday (4/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari penelitian kolaboratif yang didanai MoRA The AIR Funds, dengan ketua tim peneliti Dr. Emawati, M.Ag. (UIN Mataram).
Dalam penelitian ini, Dr. Lailatuzz Zuhriyah, M.Fil.I. berperan sebagai anggota tim peneliti sekaligus bertanggung jawab menyampaikan analisis hasil pengukuran Indeks Harmoni Sekolah (IHS) yang diperoleh melalui Aplikasi Sekolah Harmoni.
Sebelum FGD dilaksanakan, tim peneliti telah melakukan uji coba lapangan selama dua hari di empat sekolah di Kota Kupang, yaitu SMAN 1 Kupang, SMAN 2 Kupang, SMPN 5 Kupang, dan SMPN 8 Kupang.
Pelaksanaan uji coba melibatkan Dr. Lailatuzz Zuhriyah, M.Fil.I. bersama Dr. Emawati dari UIN Mataram, Dr. Anisatun Muthiah, M.Ag. dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, serta Lalu Nauval Ahsan Thofhani, S. Sos., mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
FGD tersebut menjadi tahapan penting untuk memvalidasi instrumen, sistem aplikasi, serta kerangka konseptual yang dikembangkan dalam Program Sekolah Harmoni sebelum diimplementasikan secara lebih luas pada berbagai satuan pendidikan di Indonesia.
In his presentation, Dr. Lailatuzz Zuhriyah, M.Fil.I. menjelaskan bahwa Program Sekolah Harmoni dibangun di atas sebuah Model Ekologi Harmoni Sekolah, yaitu kerangka konseptual yang memandang sekolah sebagai suatu ekosistem yang saling terhubung.
According to him, harmoni sekolah tidak lahir hanya melalui pembelajaran di kelas, melainkan merupakan hasil interaksi berbagai unsur yang membentuk kehidupan sekolah secara menyeluruh.
Model tersebut disusun melalui tujuh tahapan yang saling berkesinambungan, yaitu Ekosistem Sekolah, Budaya Sekolah, Budaya Harmoni Sekolah, Harmoni Sekolah, Indeks Harmoni Sekolah (IHS) sebagai instrumen pengukuran, Maturity Level Harmoni Sekolah, serta Rekomendasi dan Perbaikan Berkelanjutan.
According to him, pendekatan ini mengadopsi prinsip whole-school approach, di mana kepala sekolah, guru, educational staff, learners, orang tua, public, kebijakan sekolah, hingga lingkungan fisik dan sosial merupakan satu kesatuan yang saling memengaruhi dalam membangun budaya harmoni.
“Sekolah Harmoni bukan sekedar program atau slogan, namun merupakan sistem pengembangan sekolah yang dibangun secara bertahap. Pengukuran Indeks Harmoni Sekolah hanyalah titik awal. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana data tersebut digunakan sebagai dasar penyusunan rekomendasi, assistance, implementasi program, serta evaluasi berkelanjutan agar sekolah terus berkembang menuju tingkat kematangan harmoni yang lebih tinggi,” jelas Dr. Lailatuzz Zuhriyah, M.Fil.I.
Ia menambahkan bahwa model tersebut dirancang agar sekolah memiliki peta jalan (roadmap) yang jelas dalam membangun budaya yang aman, inclusive, partisipatif, moderate, and sustainable.
Selain menjelaskan model konseptual, Dr. Lailatuzz Zuhriyah, M.Fil.I. juga memaparkan hasil uji coba terbatas Aplikasi Sekolah Harmoni (ASH) yang digunakan untuk mengukur Indeks Harmoni Sekolah (IHS) secara digital.
Aplikasi ini dikembangkan untuk menghasilkan pengukuran yang objektif, terstandar, dan berbasis data, sehingga sekolah memperoleh gambaran komprehensif mengenai tingkat harmoni yang telah dicapai sekaligus aspek-aspek yang masih memerlukan penguatan.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa keempat sekolah yang menjadi lokasi uji coba berhasil mencapai Level 4 (Berdampak), yaitu tingkat kematangan tertinggi dalam Model Harmoni Sekolah.
Rincian hasil pengukuran adalah sebagai berikut:
| Sekolah | Skor IHS | Maturity Level |
|---|---|---|
| SMAN 1 Kupang | 88,88 | Level 4 – Berdampak |
| SMAN 2 Kupang | 88,51 | Level 4 – Berdampak |
| SMPN 5 Kupang | 88,44 | Level 4 – Berdampak |
| SMPN 8 Kupang | 89,13 | Level 4 – Berdampak |
Berdasarkan hasil tersebut, SMPN 8 Kupang memperoleh skor tertinggi dalam uji coba terbatas. Nevertheless, Dr. Lailatuzz Zuhriyah, M.Fil.I. menegaskan bahwa Maturity Level Harmoni Sekolah bukanlah sistem pemeringkatan antarsekolah, melainkan indikator tingkat kematangan budaya harmoni yang menjadi dasar penyusunan rekomendasi pengembangan sekolah.
“Tujuan utama pengukuran bukan untuk membandingkan sekolah satu dengan yang lain, melainkan membantu setiap sekolah memahami posisi perkembangannya. Thus, rekomendasi yang diberikan dapat lebih tepat sasaran sesuai kebutuhan masing-masing sekolah,” he said.
FGD dihadiri oleh kepala sekolah, guru, educational staff, OSIS, serta pemangku kepentingan pendidikan di Kota Kupang. Dalam forum tersebut, peserta memberikan masukan terhadap indikator, instrumen, mekanisme pengukuran, hingga fitur-fitur yang tersedia dalam Aplikasi Sekolah Harmoni.
Masukan dari para peserta menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan aplikasi sehingga mampu digunakan secara lebih efektif pada berbagai konteks sekolah di Indonesia.
Keterlibatan Dr. Lailatuzz Zuhriyah, M.Fil.I. dalam penelitian ini menunjukkan komitmen UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dalam mengembangkan riset kolaboratif yang menghasilkan inovasi nyata bagi dunia pendidikan.
Melalui kontribusinya dalam pengembangan Model Ekologi Harmoni Sekolah, penyusunan Indeks Harmoni Sekolah, serta validasi Aplikasi Sekolah Harmoni, UIN SATU Tulungagung turut berperan dalam menghadirkan pendekatan baru yang mengintegrasikan riset, teknologi digital, dan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) untuk memperkuat pendidikan yang inklusif, moderate, and sustainable.
Program Sekolah Harmoni diharapkan tidak hanya menjadi instrumen pengukuran, tetapi juga menjadi model transformasi sekolah yang membantu satuan pendidikan membangun budaya damai, memperkuat moderasi beragama, meningkatkan partisipasi seluruh warga sekolah, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, inclusive, dan berdampak bagi perkembangan peserta didik.



