
Tulungagung, 18 September 2026 — Moderasi beragama sering kali berhenti pada pembicaraan tentang bagaimana manusia hidup berdampingan dengan manusia lain. Ia dibicarakan dalam konteks toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, dialog antaragama, dan bagaimana menghindari ekstremisme. Namun, ada pertanyaan yang lebih jauh: apakah moderasi juga harus mengubah cara manusia memperlakukan alam?
Pertanyaan semacam itulah yang menjadi salah satu pintu masuk dalam kegiatan Sosialisasi Internalisasi Moderasi Beragama dan Ekoteologi bagi Generasi Muda yang diselenggarakan oleh LP2M UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Sekitar 150 mahasiswa baru mengikuti kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya diajak memahami moderasi sebagai seperangkat sikap sosial dalam menghadapi keberagaman, tetapi juga diperkenalkan pada gagasan bahwa keberagamaan memiliki konsekuensi ekologis. Cara manusia memahami Tuhan, manusia, dan alam pada akhirnya akan menentukan bagaimana ia memperlakukan lingkungan tempat ia hidup.
Hadir sebagai narasumber, Fahim Khasani, Ph.D. dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pengalaman akademiknya memberikan perspektif yang menarik. Ia merupakan lulusan Al-Azhar, Mesir, pada jenjang sarjana dan melanjutkan pendidikan magister di Yordania. Dua ruang intelektual yang berbeda tersebut menjadi bagian penting dari perspektif yang ia bawa dalam membaca moderasi beragama dan ekoteologi.
Salah satu gagasan penting yang muncul dalam pemaparan adalah bahwa moderasi tidak cukup dipahami sebagai persoalan perilaku.“Moderasi yang berkelanjutan membutuhkan moderasi epistemologis, bukan hanya moderasi perilaku.” Tegasnya. Dengan kata lain, moderasi membutuhkan tradisi pengetahuan yang terbuka, kritis, dan dialogis.
Fahim kemudian memberikan beberapa contoh faktual di Al-Azhar. BaginyaAl-Azhar tidak hanya diposisikan sebagai sebuah institusi pendidikan Islam, tetapi sebagai bagian dari sejarah panjang produksi dan transmisi pengetahuan Islam. Dari tradisi semacam inilah lahir suatu cara pandang bahwa keberagamaan tidak dapat dilepaskan dari tradisi keilmuan.
Dalam konteks moderasi, pendekatan berbasis pengetahuan memiliki konsekuensi penting. Moderasi bukan sekadar slogan kelembagaan, melainkan sesuatu yang harus tumbuh dari proses pendidikan.
Di sini muncul istilah knowledge-based religious moderation—moderasi beragama yang bertumpu pada pengetahuan.
Pengetahuan memungkinkan seseorang membedakan antara prinsip dan interpretasi, antara teks dan konteks, serta antara keyakinan pribadi dan ruang sosial yang dihuni bersama.
Karena itu, pendidikan keagamaan memiliki posisi strategis. Ia bukan hanya mengajarkan apa yang harus diyakini, tetapi juga bagaimana seseorang berpikir tentang keyakinannya dan bagaimana keyakinan itu ditempatkan dalam kehidupan bersama.

Yordania: Moderasi melalui Konsensus dan Dialog
Jika Mesir memberikan gambaran tentang moderasi yang berbasis tradisi keilmuan, pengalaman Yordania memperlihatkan dimensi lain: konsensus dan dialog.
Dalam masyarakat yang kompleks, keberagamaan tidak hidup dalam ruang kosong. Ia bertemu dengan negara, masyarakat sipil, tradisi keagamaan lain, serta berbagai kepentingan sosial. Karena itu, dialog menjadi mekanisme penting untuk menemukan titik temu.
Moderasi dalam konteks ini tidak berarti menghilangkan perbedaan. Justru sebaliknya, moderasi bekerja dengan mengakui adanya perbedaan sekaligus mencari kemungkinan hidup bersama.
Hal tersebut memberi pelajaran penting bagi mahasiswa baru UIN Tulungagung. Kampus bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga ruang belajar untuk berhadapan dengan keragaman manusia.
Mahasiswa akan bertemu dengan orang yang berbeda organisasi keagamaan, berbeda tradisi keluarga, berbeda pandangan keagamaan, bahkan berbeda cara memahami persoalan sosial.
Pertanyaannya kemudian bukan bagaimana menghilangkan perbedaan tersebut, melainkan bagaimana menjadikan perbedaan sebagai bagian dari proses belajar.
Lima Pilar: Dari Manusia hingga Alam
Menariknya, gagasan moderasi dalam kegiatan ini kemudian diperluas ke dalam hubungan manusia dengan alam.
Lima prinsip yang diperkenalkan dalam materi mencerminkan hubungan yang saling berkaitan:
Ihtiram al-Akwan — menjaga dan menghormati alam semesta.
Ikram al-Insan — memuliakan manusia tanpa memandang latar belakangnya.
Hifz al-Awthan — menjaga, mencintai, dan setia kepada tanah air.
Ziyadatul al-Umron — membangun peradaban yang maju dan bermanfaat.
Izdiyaadul al-Iman — terus meningkatkan keyakinan dan keimanan kepada Allah.
Kelima prinsip tersebut menarik karena menempatkan manusia dalam jaringan hubungan yang lebih luas. Keberagamaan tidak hanya memiliki dimensi vertikal antara manusia dan Tuhan, tetapi juga dimensi horizontal: hubungan manusia dengan manusia, masyarakat, bangsa, peradaban, dan alam.



