LP2M UIN SATU Tulungagung News Room – Malang, 29 Juli 2026 – Usai mengikuti kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Laporan Kemajuan Riset Jatim Melaju Tahun 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, yang diikuti oleh Ketua LP2M, Prof. Dr. Ngainun Naim, M.H.I. dan Kepala Pusat Penelitian LP2M, Dr. Lailatuzz Zuhriyah, M.Fil.I. melanjutkan partisipasinya dalam Rapat Koordinasi Forum LPPM/LP2M/DRPM Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) Jawa Timur yang diselenggarakan di Meeting Room Lantai 3 Guest House Universitas Brawijaya, Malang.

Forum ini menjadi wadah strategis bagi para pimpinan LPPM/LP2M/DRPM untuk mengevaluasi pelaksanaan Program Riset Jatim Melaju sekaligus merumuskan arah pengembangannya pada tahun-tahun mendatang.

Rapat koordinasi dipandu oleh Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Universitas Brawijaya, Prof. Luchman Hakim, yang menekankan pentingnya mengawal keberlanjutan Program Riset Jatim Melaju agar tidak hanya menghasilkan luaran akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pembangunan Jawa Timur.

Forum ini juga menjadi ruang konsolidasi bagi LPPM/LP2M PTN, PTNBH, dan PTKIN dalam memperkuat sinergi riset lintas perguruan tinggi.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua LPPM Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Prof. M. Turhan Yani, menyampaikan bahwa Program Riset Jatim Melaju pada tahun pertama telah melibatkan 13 perguruan tinggi dalam konsorsium, dengan dua rumpun tema besar, yakni STEM serta SHARE (Social, Humanities, Arts, Religion, and Education).

Menurutnya, setiap perguruan tinggi memiliki kekhasan keilmuan yang perlu dikolaborasikan agar mampu menghasilkan riset yang lebih komprehensif dan berdampak. Ia juga menegaskan pentingnya mengawal luaran penelitian agar benar-benar memberikan kontribusi nyata sesuai tujuan awal program.

Selain itu, UNESA akan menjadi tuan rumah Seminar Hasil Riset Jatim Melaju pada awal Desember 2026 yang akan dirangkaikan dengan Expo Poster Penelitian seluruh konsorsium. Pada kesempatan tersebut juga akan dibahas penentuan tuan rumah pelaksanaan Program Jatim Melaju Tahun 2027.

Mewakili LP2M UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Ketua LP2M, Prof. Ngainun Naim, menyampaikan bahwa Program Riset Jatim Melaju merupakan pengalaman pertama bagi PTKIN di Jawa Timur dalam mengikuti skema riset kolaboratif lintas perguruan tinggi.

Menurutnya, program ini memberikan kontribusi penting terhadap pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat budaya kolaborasi antar peneliti.

Prof. Naim juga mengusulkan agar berbagai aspek teknis dan administratif Program Jatim Melaju terus disempurnakan. Tahun pertama, menurutnya, harus dijadikan fondasi untuk melakukan evaluasi menyeluruh sehingga pelaksanaan pada tahun berikutnya semakin baik.

Ia juga mengusulkan adanya monitoring khusus pada bulan September untuk memetakan perkembangan luaran setiap tim peneliti, mengidentifikasi berbagai kendala, serta menyusun strategi percepatan pencapaian target publikasi dan luaran penelitian.

Masukan konstruktif juga datang dari Ketua LP2M UIN Madura, Prof. Erie Hariyanto, yang menyoroti masih adanya kendala dalam mekanisme pencarian mitra penelitian. Menurutnya, sistem pembentukan konsorsium perlu disempurnakan agar dosen yang memiliki kepakaran tertentu, khususnya pada bidang STEM, lebih mudah menemukan mitra yang sesuai.

Selain itu, monitoring terhadap capaian publikasi juga perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan target luaran penelitian dapat tercapai secara optimal.

Perwakilan Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Hary, mengusulkan agar Program Jatim Melaju pada masa mendatang tidak hanya berfokus pada penelitian, tetapi juga membuka skema Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) secara kolaboratif sehingga hasil-hasil penelitian dapat diimplementasikan secara lebih luas kepada masyarakat.

Sementara itu, Prof. Purwo dari Direktorat Riset dan Inovasi Universitas Airlangga (UNAIR) menegaskan bahwa arah pengembangan Program Jatim Melaju perlu difokuskan pada riset yang berdampak (impactful research). Menurutnya, setiap konsorsium sebaiknya memiliki kawasan binaan yang menjadi laboratorium pengabdian sekaligus objek implementasi hasil penelitian.

Melalui mekanisme tersebut, dampak riset dapat diukur secara berkelanjutan selama beberapa tahun. Ia juga mendorong agar hasil monitoring dan evaluasi nantinya dipresentasikan kepada Gubernur Jawa Timur dengan melibatkan reviewer sehingga capaian riset dapat dipotret secara objektif dan menjadi dasar pengambilan kebijakan daerah.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Direktur DRPM ITS, Prof. Fadilatul Taufany, memaparkan sejumlah strategi penguatan Program Jatim Melaju pada tahun berikutnya. Beberapa di antaranya adalah penyusunan portofolio peneliti Jatim Melaju, pengembangan kurikulum riset kolaboratif, penguatan jejaring internasional, penyelenggaraan expo hasil penelitian yang melibatkan seluruh anggota konsorsium, serta penguatan komitmen dalam mencapai target luaran publikasi bereputasi internasional.

Beliau juga mendorong agar setiap tim peneliti hadir secara lengkap pada seminar hasil dengan membawa poster penelitian sehingga proses diseminasi hasil riset menjadi lebih hidup dan memberikan ruang kolaborasi yang lebih luas.

Perwakilan LPPM UPN “Veteran” Jawa Timur, menyampaikan perlunya memperluas kolaborasi tidak hanya pada bidang penelitian, tetapi juga pengabdian kepada masyarakat, hilirisasi hasil riset, dan kemitraan dengan dunia industri.

Selain itu, mekanisme pencarian mitra antar-kampus dinilai masih perlu disempurnakan agar seluruh perguruan tinggi memiliki kesempatan yang sama dalam membangun konsorsium penelitian.

Selanjutnya, Sekretaris LPPM Universitas Jember (UNEJ), Prof. Bevo, mengusulkan agar monitoring terhadap luaran penelitian tetap dilakukan satu hingga dua tahun setelah penelitian selesai. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan seluruh target publikasi dapat tercapai.

Ia juga mengusulkan adanya sesi sharing best practices bagi peneliti yang berhasil menghasilkan publikasi bereputasi internasional, penyempurnaan aplikasi agar seluruh anggota konsorsium dapat memantau perkembangan luaran penelitian, serta mendorong keterlibatan mahasiswa pascasarjana dalam setiap proyek riset kolaboratif.

Sementara itu, Ketua LPPM UIN Syekh Wasil Kediri menyoroti pentingnya transparansi informasi topik penelitian sejak tahap pembukaan pendaftaran sehingga calon mitra dapat memilih konsorsium sesuai bidang kepakarannya.

Ia juga mengusulkan agar sistem komunikasi administratif dan tata persuratan diperbaiki sehingga informasi tidak hanya berhenti di tingkat administrator, tetapi juga tersampaikan secara efektif kepada pimpinan perguruan tinggi. Selain itu, keterlibatan mahasiswa dalam penelitian kolaboratif perlu benar-benar diwujudkan dalam seluruh tahapan penelitian.

Masukan juga disampaikan oleh Kepala Pusat Penelitian UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Dr. Shofwan Jauhar, yang mengusulkan agar jadwal pembukaan Program Riset Jatim Melaju diselaraskan dengan jadwal pendanaan Litapdimas sehingga dosen memiliki keleluasaan menentukan skema penelitian yang akan diikuti.

Menanggapi berbagai usulan tersebut, Prof. Luchman Hakim menegaskan bahwa panitia berkomitmen melakukan penyempurnaan tata kelola, khususnya pada aspek komunikasi dan tata persuratan, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan Program Riset Jatim Melaju di masa mendatang.

Rapat koordinasi ini menghasilkan berbagai rekomendasi strategis yang akan menjadi dasar penyempurnaan Program Riset Jatim Melaju, mulai dari penguatan tata kelola konsorsium, peningkatan kualitas luaran penelitian, perluasan jejaring internasional, pengembangan kolaborasi dengan dunia industri, hingga penguatan sinergi antarperguruan tinggi di Jawa Timur.

Bagi LP2M UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, forum ini menjadi momentum penting untuk terus memperkuat peran perguruan tinggi keagamaan dalam ekosistem riset kolaboratif yang berkualitas, berdampak, dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah maupun peningkatan daya saing riset Indonesia di tingkat global. (El-Zet)

Close