Ringkasan Berita:

  • UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung melalui PSGAD menggelar penguatan kompetensi pendamping mahasiswa penyandang disabilitas sekaligus pelatihan komunikasi menggunakan bahasa isyarat, Jumat (2/10/2026).
  • Sebanyak 60 mahasiswa yang tergabung sebagai relawan pendamping disabilitas mengikuti kegiatan tersebut.
  • Peserta mendapatkan pembekalan mengenai kompetensi dasar pendampingan serta komunikasi yang efektif, empatik, dan setara.
  • Bahasa isyarat menjadi salah satu materi utama dan dipraktikkan secara langsung oleh para peserta.
  • Pelatihan dipandu Dr. Taryaningsih, aktivis disabilitas sekaligus pendiri Yayasan NAEEMA.
  • Kegiatan menjadi bagian dari upaya UIN SATU membangun ekosistem pendidikan tinggi yang aksesibel dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas.
  • Penguatan kapasitas sumber daya manusia berjalan beriringan dengan pengembangan fasilitas, layanan akademik, kurikulum, dan sistem pendampingan yang inklusif.

Tulungagung — Komitmen Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung dalam membangun lingkungan pendidikan yang inklusif terus diperkuat. Melalui Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD), UIN SATU menyelenggarakan kegiatan penguatan kompetensi pendamping mahasiswa penyandang disabilitas sekaligus pelatihan komunikasi menggunakan bahasa isyarat, Jumat (2/10/2026).

Sebanyak 60 mahasiswa yang tergabung dalam relawan pendamping disabilitas mengikuti kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai kompetensi dasar pendampingan sekaligus diajak memahami pentingnya komunikasi yang efektif, empatik, dan setara dalam berinteraksi dengan mahasiswa penyandang disabilitas.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan relawan sebagai bagian dari ekosistem pendukung mahasiswa penyandang disabilitas di lingkungan UIN SATU Tulungagung.

60 Relawan Perkuat Kompetensi Pendampingan

Keberadaan relawan pendamping menjadi salah satu unsur penting dalam menciptakan lingkungan akademik yang mampu merespons keberagaman kebutuhan mahasiswa.

Melalui kegiatan penguatan kompetensi ini, para relawan tidak hanya diarahkan untuk memahami tugas pendampingan secara teknis, tetapi juga membangun perspektif yang tepat dalam berinteraksi dengan mahasiswa penyandang disabilitas.

Pendampingan pada dasarnya bukan sekadar memberikan bantuan. Relawan perlu memahami kebutuhan individu, mengetahui bentuk dukungan yang diperlukan, sekaligus tetap menghormati kemandirian, pilihan, privasi, dan martabat mahasiswa yang didampingi.

Pemahaman tersebut menjadi bekal penting agar proses pendampingan dapat berlangsung secara setara dan tidak menempatkan mahasiswa penyandang disabilitas sebagai pihak yang selalu bergantung pada bantuan orang lain.

Belajar Bahasa Isyarat secara Langsung

Salah satu materi yang mendapatkan perhatian dalam kegiatan tersebut adalah komunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Para peserta tidak hanya diperkenalkan pada konsep dasar bahasa isyarat, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung. Proses pembelajaran berlangsung secara interaktif sehingga peserta dapat memperoleh pengalaman awal dalam membangun komunikasi dengan mahasiswa Tuli maupun mahasiswa yang memiliki hambatan komunikasi tertentu.

Pembelajaran bahasa isyarat menjadi langkah penting bagi relawan untuk memahami bahwa komunikasi tidak selalu berlangsung melalui bahasa verbal. Setiap individu dapat memiliki kebutuhan komunikasi yang berbeda sehingga diperlukan kemampuan untuk menyesuaikan cara berinteraksi.

Bagi para relawan, pengalaman tersebut menjadi pintu awal untuk membangun komunikasi yang lebih aksesibel di lingkungan kampus.

Diperkuat Pengalaman Aktivis Disabilitas

Pelatihan dipandu langsung oleh Dr. Taryaningsih, seorang aktivis disabilitas sekaligus pendiri Yayasan NAEEMA yang bergerak dalam isu disabilitas.

Kehadiran fasilitator dengan pengalaman dalam pendampingan dan pemberdayaan penyandang disabilitas memberikan perspektif praktis kepada para peserta. Materi tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi diarahkan pada situasi yang dapat ditemui relawan ketika berinteraksi dan memberikan pendampingan di lingkungan kampus.

Melalui pengalaman tersebut, para relawan diajak memahami pentingnya komunikasi yang tepat, empatik, dan menghargai keberagaman kebutuhan setiap individu.

Pengalaman langsung dalam proses pembelajaran juga diharapkan dapat membantu peserta melihat pendampingan disabilitas bukan semata sebagai aktivitas membantu, tetapi sebagai bagian dari upaya menciptakan relasi sosial dan akademik yang setara.

Mahasiswa dengan Beragam Kondisi Disabilitas

Di lingkungan UIN SATU Tulungagung terdapat mahasiswa dengan beragam kondisi disabilitas, antara lain daksa, Tuli, wicara, dan netra.

Keberadaan mereka merupakan bagian dari keberagaman warga akademik UIN SATU. Karena itu, lingkungan pendidikan yang inklusif perlu dibangun dengan memperhatikan kebutuhan mahasiswa dalam berbagai aspek kehidupan akademik.

Aksesibilitas tidak hanya berkaitan dengan tersedianya sarana dan prasarana. Kesiapan sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dalam memastikan mahasiswa penyandang disabilitas memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Dalam konteks tersebut, relawan pendamping memiliki peran sebagai salah satu unsur yang dapat membantu menciptakan lingkungan akademik yang lebih responsif terhadap keberagaman.

Fasilitas dan Layanan Inklusif Terus Dikembangkan

Upaya membangun kampus yang inklusif di UIN SATU Tulungagung dilakukan melalui berbagai aspek.

Dalam beberapa tahun terakhir, penyediaan fasilitas dan sarana yang mendukung aksesibilitas terus dikembangkan. Bersamaan dengan itu, penguatan kurikulum, layanan akademik, serta sistem pendampingan bagi mahasiswa penyandang disabilitas juga terus didorong.

Penguatan kompetensi relawan menjadi salah satu bagian dari rangkaian upaya tersebut. Kehadiran relawan yang memiliki pemahaman mengenai kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas diharapkan dapat memperkuat dukungan dalam kehidupan akademik sehari-hari.

Dengan demikian, pembangunan kampus inklusif tidak hanya diwujudkan melalui perubahan fisik lingkungan, tetapi juga melalui peningkatan kapasitas orang-orang yang berada di dalamnya.

Bahasa Isyarat sebagai Langkah Awal Komunikasi Inklusif

Kemampuan menggunakan bahasa isyarat tentu tidak dapat dikuasai hanya melalui satu kali pelatihan. Para relawan masih membutuhkan kesempatan untuk terus belajar dan berlatih agar kemampuan komunikasi mereka semakin berkembang.

Namun, kegiatan ini menjadi langkah awal yang penting dalam membangun kesadaran sekaligus keterampilan komunikasi yang lebih inklusif di lingkungan kampus.

Kemampuan berkomunikasi dengan cara yang sesuai kebutuhan mahasiswa juga dapat membantu mengurangi hambatan interaksi dalam kehidupan akademik. Ketika komunikasi dapat berlangsung dengan lebih baik, proses belajar, berorganisasi, maupun berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kampus dapat berjalan secara lebih optimal.

Karena itu, pembelajaran bahasa isyarat di kalangan relawan tidak hanya menjadi keterampilan tambahan, tetapi juga bagian dari proses membangun budaya komunikasi yang lebih terbuka terhadap keberagaman.

Membangun Budaya Akademik yang Setara

Kampus inklusif pada akhirnya bukan hanya tentang tersedianya fasilitas yang ramah disabilitas. Lebih dari itu, inklusi juga berkaitan dengan terciptanya budaya akademik yang menghargai setiap mahasiswa sebagai individu yang memiliki hak, potensi, dan kesempatan untuk berkembang.

Penguatan kompetensi pendamping menjadi salah satu langkah untuk membangun budaya tersebut. Relawan diharapkan mampu memberikan dukungan sesuai kebutuhan tanpa mengambil alih kemandirian mahasiswa penyandang disabilitas.

Melalui interaksi sehari-hari, nilai kepedulian, penghormatan, kesetaraan, dan penerimaan terhadap keberagaman dapat terus tumbuh dalam kehidupan akademik.

Memperkuat Ekosistem Pendidikan Inklusif

Kegiatan penguatan kompetensi pendamping dan pelatihan bahasa isyarat menjadi bagian dari ikhtiar UIN SATU Tulungagung dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang dapat diakses oleh seluruh mahasiswa.

Pengembangan fasilitas yang aksesibel, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan layanan akademik, serta keberadaan relawan pendamping menjadi bagian yang saling melengkapi dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang inklusif.

Sebanyak 60 mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan. Mereka diharapkan dapat membawa pengalaman tersebut ke dalam interaksi dan aktivitas akademik sehari-hari.

Dari langkah sederhana seperti belajar bahasa isyarat hingga penguatan sistem pendampingan, seluruh upaya tersebut menjadi bagian dari proses yang lebih besar: menghadirkan UIN SATU Tulungagung sebagai ruang pendidikan yang semakin aksesibel, setara, dan ramah bagi seluruh mahasiswa tanpa terkecuali.

Close