
Ringkasan Berita:
- Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD) UIN SATU Tulungagung bersama Relawan Difabel menggelar rapat koordinasi di ruang PSGAD-LP2M UIN SATU Tulungagung.
- Kegiatan menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi dan menyamakan langkah dalam pelaksanaan pendampingan mahasiswa penyandang disabilitas.
- Salah satu agenda utama rapat adalah pemetaan data mahasiswa difabel sebagai dasar untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan bentuk pendampingan yang sesuai.
- Rapat dilaksanakan pukul 12.00 WIB dengan mempertimbangkan jadwal perkuliahan relawan yang berasal dari program studi dan semester berbeda.
- Para relawan juga mengikuti latihan singkat bahasa isyarat untuk menjaga dan meningkatkan kemampuan komunikasi, khususnya dengan mahasiswa Tuli.
- Latihan dipandu oleh Tazkiya, salah satu relawan yang memiliki kemampuan menggunakan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO).
- Melalui pemetaan data, koordinasi rutin, dan penguatan kompetensi komunikasi, PSGAD berharap pendampingan mahasiswa difabel dapat berlangsung lebih terarah, responsif, dan berkelanjutan.
Tulungagung — Upaya membangun lingkungan kampus yang inklusif membutuhkan koordinasi yang baik, pemahaman terhadap kebutuhan mahasiswa, serta kesiapan relawan dalam memberikan pendampingan. Hal tersebut menjadi perhatian Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD) UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung bersama Relawan Difabel melalui rapat koordinasi yang berlangsung di ruang PSGAD-LP2M UIN SATU Tulungagung, Kamis (08/10/2026).
Pertemuan ini menjadi momentum awal untuk menyamakan langkah sekaligus memperkuat pelaksanaan pendampingan mahasiswa penyandang disabilitas di lingkungan kampus. Sejumlah agenda dibahas, mulai dari pemetaan data mahasiswa difabel hingga penguatan kemampuan komunikasi relawan melalui latihan bahasa isyarat.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem pendampingan yang tidak hanya mengandalkan kepedulian, tetapi juga didukung oleh data, koordinasi, dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.
Pemetaan Data untuk Pendampingan yang Lebih Terarah
Salah satu agenda utama dalam rapat koordinasi adalah pemetaan data mahasiswa difabel di lingkungan UIN SATU Tulungagung.
Pemetaan ini menjadi langkah penting untuk memperoleh gambaran mengenai keberadaan mahasiswa difabel di berbagai program studi, sekaligus memahami kondisi dan kebutuhan masing-masing mahasiswa. Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan bentuk dukungan dan pendampingan yang sesuai.
Dengan data yang lebih terpetakan, relawan dapat membangun pola pendampingan yang lebih terencana. Dukungan tidak hanya diberikan ketika muncul kendala, tetapi juga dapat dipersiapkan berdasarkan kebutuhan mahasiswa dalam menjalani aktivitas akademik dan kehidupan kampus.
Setiap mahasiswa memiliki kondisi, pilihan, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pemetaan data diharapkan membantu proses pendampingan agar lebih responsif tanpa mengabaikan kemandirian serta hak mahasiswa penyandang disabilitas.
Koordinasi Menyesuaikan Aktivitas Perkuliahan Relawan
Rapat koordinasi dilaksanakan pada pukul 12.00 WIB, bertepatan dengan waktu istirahat. Pemilihan waktu ini mempertimbangkan latar belakang relawan yang berasal dari program studi dan semester berbeda sehingga memiliki jadwal perkuliahan yang beragam.
Waktu istirahat dipilih agar para relawan memiliki kesempatan untuk mengikuti koordinasi tanpa terlalu mengganggu kegiatan akademik masing-masing.
Pelaksanaan rapat juga diupayakan berlangsung efektif agar agenda yang telah direncanakan dapat dibahas dengan baik dan para relawan dapat kembali melanjutkan aktivitas perkuliahan.
Pengaturan waktu tersebut menunjukkan pentingnya koordinasi yang fleksibel dalam menjaga keberlangsungan kegiatan relawan. Di tengah kesibukan akademik, komunikasi dan pertemuan rutin tetap diperlukan agar pelaksanaan pendampingan dapat berjalan secara terarah.
Latihan Bahasa Isyarat untuk Memperkuat Komunikasi
Selain membahas pemetaan data dan koordinasi pendampingan, para relawan juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengikuti latihan singkat bahasa isyarat.
Latihan ini menjadi bagian dari upaya menjaga sekaligus meningkatkan kemampuan komunikasi relawan, khususnya ketika berinteraksi dengan mahasiswa Tuli. Kemampuan bahasa isyarat perlu terus dipraktikkan agar kosakata dan gerakan yang telah dipelajari tetap diingat dan dapat digunakan dalam situasi nyata.
Meskipun berlangsung dalam waktu terbatas, latihan tersebut memberikan ruang bagi relawan untuk kembali mengingat materi sekaligus saling berbagi pengetahuan.
Dalam pendampingan mahasiswa penyandang disabilitas, komunikasi menjadi aspek penting. Pemahaman terhadap cara berkomunikasi yang sesuai dapat membantu membangun interaksi yang lebih nyaman, mengurangi hambatan komunikasi, serta mendukung partisipasi mahasiswa dalam berbagai aktivitas kampus.
Tazkiya Berbagi Kemampuan SIBI dan BISINDO
Pada kesempatan tersebut, latihan bahasa isyarat dipandu oleh Tazkiya, salah satu relawan yang telah memiliki kemampuan menggunakan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) maupun Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO).
Kemampuan tersebut dimanfaatkan untuk membantu relawan lainnya mengingat kembali sejumlah kosakata dan gerakan bahasa isyarat.
Proses belajar berlangsung dalam suasana berbagi pengetahuan antarrelawan. Mereka yang telah memiliki kemampuan lebih dapat membantu teman-teman lainnya untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan komunikasi.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi relawan dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk latihan sederhana dan pembelajaran bersama.
Meski demikian, kemampuan bahasa isyarat tetap perlu dikembangkan melalui praktik yang berkelanjutan agar relawan semakin terbiasa menggunakannya ketika berinteraksi dan memberikan pendampingan secara langsung.
Menguatkan Peran Relawan dalam Mewujudkan Kampus Inklusif
Keberadaan Relawan Difabel menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan tinggi yang lebih ramah dan responsif terhadap keberagaman kebutuhan mahasiswa.
Melalui koordinasi yang teratur, pemetaan data yang lebih baik, dan peningkatan keterampilan komunikasi, relawan diharapkan mampu memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas.
Pendampingan yang baik tidak hanya berkaitan dengan pemberian bantuan, tetapi juga kemampuan memahami kebutuhan individu, menghormati pilihan, serta mendukung kemandirian mahasiswa dalam menjalani kehidupan akademik.
Karena itu, penguatan kapasitas relawan perlu berjalan beriringan dengan upaya membangun koordinasi yang berkelanjutan antara relawan dan PSGAD.
Dari Koordinasi Menuju Pendampingan Berkelanjutan
Rapat koordinasi PSGAD bersama Relawan Difabel UIN SATU Tulungagung diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat sistem pendampingan mahasiswa penyandang disabilitas secara berkelanjutan.
Pemetaan data menjadi dasar untuk memahami kebutuhan mahasiswa, sementara koordinasi dan latihan bahasa isyarat membantu mempersiapkan relawan dalam menjalankan perannya.
Ketiga aspek tersebut saling melengkapi dalam membangun layanan pendampingan yang lebih terarah, responsif, dan sesuai kebutuhan.
Pada akhirnya, kampus inklusif tidak hanya dibangun melalui penyediaan fasilitas yang aksesibel, tetapi juga melalui kesiapan sumber daya manusia, komunikasi yang terbuka, dan kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Melalui penguatan koordinasi dan kompetensi relawan, PSGAD bersama Relawan Difabel UIN SATU Tulungagung terus berupaya menghadirkan lingkungan akademik yang menghargai keberagaman serta mendukung setiap mahasiswa untuk belajar, berpartisipasi, dan berkembang sesuai potensinya.



