Ringkasan Berita:

  • Mahasiswa difabel dan relawan difabel UIN SATU Tulungagung berkolaborasi dalam persiapan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) mahasiswa FTIK dalam rangka OASE.
  • Kolaborasi ini menghadirkan perspektif dan pengalaman langsung mahasiswa difabel untuk memperkaya gagasan karya ilmiah tentang isu disabilitas.
  • PSGAD UIN SATU memfasilitasi pertemuan sekaligus mendorong pembelajaran bahasa isyarat sebagai upaya membangun komunikasi yang lebih inklusif.

Tulungagung, 14 Oktober 2026 — Semangat membangun kampus inklusi terus diwujudkan melalui kolaborasi antara mahasiswa difabel dan relawan difabel di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Sejumlah mahasiswa difabel bersama relawan terlibat dalam persiapan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang diikuti mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) dalam rangka OASE. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi untuk bertukar pengalaman, memperkaya perspektif, dan membangun pemahaman yang lebih mendalam mengenai isu disabilitas.

Menghadirkan Perspektif Difabel dalam Karya Ilmiah

Pelibatan mahasiswa difabel dalam persiapan LKTI memiliki arti penting dalam pengembangan karya ilmiah yang lebih inklusif. Pembahasan mengenai disabilitas perlu melibatkan perspektif dan pengalaman langsung dari individu yang mengalaminya, sehingga gagasan yang disusun tidak hanya bertumpu pada pemahaman konseptual, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan serta tantangan nyata yang dihadapi penyandang disabilitas.

Melalui kolaborasi ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk saling bertukar pandangan dan mengembangkan gagasan yang lebih kontekstual. Pengalaman mahasiswa difabel diharapkan dapat memperkaya substansi karya tulis sekaligus meningkatkan kepekaan terhadap pentingnya kesetaraan hak dan aksesibilitas di lingkungan pendidikan.

Kolaborasi tersebut juga menegaskan bahwa mahasiswa difabel bukan sekadar objek pembahasan dalam penelitian, melainkan mitra yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan perspektif penting dalam pengembangan gagasan akademik.

Belajar Bahasa Isyarat, Membangun Komunikasi Inklusif

Selain mendukung persiapan LKTI, pertemuan ini dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk belajar bahasa isyarat sebagai sarana komunikasi dengan penyandang disabilitas rungu. Mahasiswa dan relawan berkesempatan mengenal serta mempraktikkan komunikasi yang lebih inklusif agar interaksi dapat berlangsung dengan lebih baik.

Pembelajaran ini menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan kampus yang ramah disabilitas. Inklusi tidak cukup diwujudkan melalui pemahaman terhadap konsep kesetaraan, tetapi juga membutuhkan keterampilan komunikasi, sikap terbuka, dan kemauan untuk memahami kebutuhan orang lain.

Dengan mengenal bahasa isyarat, mahasiswa dan relawan diharapkan semakin menyadari pentingnya menyediakan ruang komunikasi yang dapat diakses oleh semua orang. Langkah sederhana ini menjadi salah satu bentuk upaya membangun interaksi yang menghargai keberagaman di lingkungan kampus.

PSGAD Fasilitasi Kolaborasi untuk Kampus Inklusi

Pusat Studi Gender, Anak, dan Difabel (PSGAD) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung memfasilitasi pertemuan tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan bagi mahasiswa difabel sekaligus mendukung terwujudnya kampus inklusi.

Fasilitasi ini menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan akademik dengan penguatan kapasitas mahasiswa dan relawan dalam memahami isu disabilitas. Melalui kegiatan semacam ini, PSGAD turut mendorong terciptanya lingkungan kampus yang tidak hanya menyediakan layanan bagi mahasiswa difabel, tetapi juga menumbuhkan budaya interaksi yang menghargai keberagaman dan menjunjung tinggi kesetaraan.

Keterlibatan mahasiswa difabel dan relawan dalam kegiatan akademik juga menjadi langkah untuk memperkuat partisipasi seluruh mahasiswa. Dengan membuka ruang dialog dan kolaborasi, lingkungan pendidikan diharapkan semakin mampu mengakomodasi beragam pengalaman dan kebutuhan mahasiswa.

Bersama Mewujudkan Pendidikan yang Setara dan Aksesibel

Kegiatan ini menegaskan bahwa kampus inklusi perlu dibangun melalui keterlibatan seluruh sivitas akademika. Mahasiswa difabel bukan hanya penerima layanan, melainkan juga sumber pengetahuan, mitra kolaborasi, dan bagian penting dalam merumuskan gagasan tentang pendidikan yang lebih adil.

Kolaborasi dalam persiapan LKTI OASE dan pembelajaran bahasa isyarat diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa inklusivitas perlu hadir dalam praktik sehari-hari, baik dalam kegiatan akademik maupun kehidupan sosial kampus.

Melalui semangat kolaborasi tersebut, UIN SATU Tulungagung terus didorong untuk memperkuat komitmen dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang aksesibel, setara, dan memberikan kesempatan bagi setiap mahasiswa untuk berpartisipasi serta berkembang sesuai potensi yang dimiliki.

Close