
Tulungagung — Semangat membangun pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan terus diperkuat oleh LP2M UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung melalui penandatanganan perjanjian kerja sama bersama KKMI dan KKRA Kecamatan Kalidawir serta Fatayat NU Tulungagung pada Selasa (13/05/2026). Kegiatan yang berlangsung di Kantor Pengawas (Kanwas) Kalidawir tersebut menjadi langkah strategis dalam penguatan ekosistem kolaborasi pengembangan madrasah inklusif di lingkungan madrasah Kecamatan Kalidawir.
Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada pengembangan madrasah inklusi, tetapi juga mencakup peningkatan mutu di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, publikasi ilmiah, pengembangan sumber daya manusia, hingga penguatan program kelembagaan berbasis inklusi. Hal tersebut sebagaimana tertuang dalam naskah perjanjian kerja sama antara LP2M UIN SATU Tulungagung dengan KKMI dan KKRA Kecamatan Kalidawir.
Hadir dari jajaran LP2M UIN SATU Tulungagung, Plh. Ketua LP2M Dr. Lailatuzz Zuhriyah, M.Fil.I; Kepala PSGAD, Dra. Umy Zahroh, M.Kes, Ph.D.; Sekretaris LP2M, Didin Wahyudin, M.Pd.; serta Tim PSGAD Dr. Samsul Rifa’i, M.Pd.I. dan Dr. Zulva Ismawati, M.Pd. Sementara itu, dari Fatayat NU Tulungagung hadir Hj. Alik Mudrikah, M.Pd. Ketua KKMI dan KKRA, Pengawas Madrasah dan RA, serta seluruh kepala Madrasah dan RA se kecamatan Kalidawir juga turut hadir.
Acara diawali dengan pembukaan oleh MC, dilanjutkan sambutan dari Pengawas Madrasah Kecamatan Kalidawir, Dr. Asrori Mustofa. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa pengembangan madrasah inklusi merupakan salah satu program penting Kementerian Agama dalam mewujudkan lembaga pendidikan yang lebih ramah, moderat, dan menjunjung tinggi nilai-nilai inklusivitas.
Menurutnya, implementasi madrasah inklusi tentu memerlukan kesiapan berbagai aspek, mulai dari sumber daya manusia yang mumpuni, penguatan sarana-prasarana, hingga dukungan sistem kelembagaan yang memadai. Karena itu, madrasah perlu membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak agar cita-cita tersebut dapat diwujudkan secara optimal.
“Madrasah harus siap menghadapi tantangan ini. Karena itu, diperlukan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk UIN SATU Tulungagung dan Fatayat NU, agar pengembangan madrasah inklusi dapat berjalan lebih baik dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sambutan berikutnya disampaikan Ketua KKMI Kalidawir, Erawan Abdullah, M.Pd. yang menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kesediaan LP2M UIN SATU Tulungagung dan Fatayat NU Tulungagung untuk bersama-sama mendampingi madrasah di wilayah Kalidawir.
“Bagaimanapun, madrasah-madrasah ini adalah saudara kandung dari UIN, karena sama-sama berada di bawah Kementerian Agama,” ungkapnya.
Ia berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada penandatanganan dokumen semata, tetapi benar-benar dapat ditindaklanjuti dalam berbagai program nyata yang memberi dampak bagi pengembangan madrasah dan peningkatan kualitas pendidikan.
Sementara itu, Plh. Ketua LP2M UIN SATU Tulungagung, Dr. Lailatuzz Zuhriyah, M.Fil.I. menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan 46 madrasah di bawah KKMI dan KKRA Kalidawir yang telah menggandeng UIN SATU Tulungagung dalam pengembangan madrasah inklusi.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kerja sama ini selaras dengan arah pengembangan kelembagaan UIN SATU Tulungagung yang mengusung jargon “UIN SATU SIP”, yakni Sustainability, Inclusive, and Partnership.
“UIN SATU juga memiliki fokus pada pengembangan kelembagaan yang inklusif. Karena itu, sangat tepat jika UIN dapat berkolaborasi dengan madrasah-madrasah yang memiliki perhatian yang sama terhadap pengembangan kelembagaan inklusif,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa ruang lingkup kerja sama nantinya tidak hanya berkaitan dengan pengembangan madrasah inklusi, tetapi juga mencakup penelitian kolaboratif, pengabdian kepada masyarakat, publikasi ilmiah, penguatan literasi keagamaan, gender dan difabel, serta pengembangan sumber daya manusia secara berkelanjutan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan naskah kerja sama antara para pihak, doa bersama, dan sesi dokumentasi bersama. Momentum ini diharapkan menjadi awal penguatan sinergi antara perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan lembaga pendidikan madrasah dalam membangun pendidikan Islam yang inklusif, moderat, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. (El-Zet)



