Islamic Green Campus: Ethics, Ecology, and Education

Peneliti: Syamsun Ni’am, Lailatuzz Zuhriyah, Dwi Astuti Wahyu Nurhayati, Siti Marpuah

Saat ini, isu lingkungan tidak hanya menjadi diskursus ekologis saja, tetapi juga wacana teologis dan moral. Dalam konteks ini, penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Syamsun Ni’am, M.Ag. dkk., pada tahun 2024, yang didanai melalui BOPTN UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung tahun anggaran 2024, bertajukGreen Campus: Praktik Ekoteologi Islam di Perguruan Tinggi Indonesia dan Malaysiaberupaya mengungkap secara mendalam integrasi nilai-nilai keislaman dalam praktik keberlanjutan di perguruan tinggi.

Melalui pendekatan kualitatif komparatif, penelitian ini menyoroti dua perguruan tinggi di Asia Tenggara, yakni UIN Raden Intan Lampung (Indonesia) dan Universitas Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM). Keduanya menempatkan isu keberlanjutan sebagai prioritas strategis.

Temuan utama dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekoteologi Islam, yakni ajaran tentang manusia sebagai khalifah bumi dan penjaga keseimbangan alam, telah menjadi basis normatif dalam merumuskan kebijakan Green Campus di kedua institusi tersebut.

UIN Raden Intan Lampung misalnya, tidak hanya menerapkan prinsip 6R (Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Repair, Recycle), tetapi juga mengintegrasikan 6 prinsip tersebut ke dalam program edukatif, seperti Duta Lingkungan dan Eco-Campus Award yang menumbuhkan partisipasi aktif dari seluruh sivitas akademika.

Sementara itu, UTHM mengadopsi pendekatan berbasis zero carbon emission dengan target nol emisi pada tahun 2050. Upaya ini didukung oleh tersedianya infrastruktur yang ramah lingkungan dan sistem pengelolaan energi yang efisien.

Salah satu hasil penting dari penelitian ini adalah adanya korelasi yang positif antara nilai-nilai spiritual dalam Islam dengan perilaku ekologis civitas akademikanya. Kesadaran ekologis di kedua perguruan tinggi tersebut tidak hanya tumbuh dari pengetahuan ilmiah saja, tetapi justru diperkuat oleh pemahaman teologis yang mendalam, bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab amanah (trusteeship) kepada Tuhan.

Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa ekoteologi Islam tidak hanya bersifat konseptual semata, tetapi memiliki implikasi secara praksis dan nyata dalam mendorong gaya hidup yang berkelanjutan.

Besides that, Penelitian ini juga menemukan bahwa keberhasilan dari implementasi Green Campus sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan yang transformatif, kurikulum integratif, dan budaya akademik yang partisipatif.

Hal ini berarti bahwa Green Campus bukanlah sekedar hasil dari kebijakan administratif saja, tetapi hasil dari ekosistem moral, sosial, dan spiritual yang dibangun secara kolektif oleh warga kampus.

Penelitian ini merekomendasikan agar kampus-kampus Islam di Indonesia mulai membangun roadmap ekoteologis dalam pengembangan kebijakan dan kegiatan pembelajaran, termasuk integrasi SDGs dalam desain kurikulum, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Penelitian ini memberikan kontribusi secara teoretis untuk memperkaya literatur kajian interdisipliner antara studi Islam, ekologi, dan pendidikan tinggi. Besides that, secara praktis, temuan penelitian ini menjadi blueprint yang potensial bagi pengambil kebijakan, baik pada tingkat pemerintah maupun perguruan tinggi, dalam rangka menyusun strategi keberlanjutan yang berbasis nilai.

Model integrasi agama dan lingkungan seperti yang ditemukan di dua lokus penelitian (UIN Raden Intan Lampung dan UTHM Malaysia), patut menjadi rujukan dalam pengembangan sistem pendidikan tinggi Islam ke depan, yakni yang berpihak pada bumi dan berpijak pada wahyu.

Penelitian ini menjadi salah satu bagian dari ikhtiar strategis UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dalam mengaktualisasikan Tridharma Perguruan Tinggi, yang tidak hanya berorientasi pada keilmuan, tetapi juga berpihak pada keberlanjutan alam.

Melalui spirit Islam rahmatan lil ‘alamin, perguruan tinggi Islam didorong untuk tidak hanya menjadi pusat keilmuan saja, tetapi juga ruang etika dan spiritualitas ekologis.

Besides that, melalui kolaborasi lintas negara, pendekatan lintas-disiplin, dan refleksi atas nilai-nilai wahyu, penelitian ini menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan kampus yang tidak hanya hijau secara fisik, tetapi juga berkesadaran ekologis, berkeadaban spiritual, dan berkomitmen pada masa depan yang lestari.

Harapan peneliti, ke depan, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dapat menjadi pelopor peradaban hijau berbasis Islam melalui gagasan Religreennya—yang tumbuh dari iman, bertindak dengan ilmu, dan bergerak demi kemaslahatan semesta. (LZ)

Close