Center for Gender Studies, Child, and Disabled (PSGAD) UIN SATU Tulungagung terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong terwujudnya lingkungan perguruan tinggi yang inklusif. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah mempersiapkan keterlibatan relawan “Teman Difabel” dalam pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Year 2026.

Sebagai bagian dari persiapan tersebut, PSGAD menggelar rapat awal bersama para relawan yang akan terlibat dalam pendampingan mahasiswa difabel selama rangkaian PBAK 2026. Rapat ini menjadi ruang koordinasi awal sekaligus penyamaan persepsi mengenai pentingnya kehadiran relawan dalam memastikan mahasiswa difabel dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan PBAK secara nyaman, aman, dan setara. Kegiatan dihadiri oleh Kepala PSGAD, Dr. Umy Zahroh, M.Kes., Ph.D., bersama Tim PSGAD yang terdiri atas Dr. Zulva Ismawati, M.Pd., Dr. Samsul Rifai, M.Pd.I., Erwan Efendi, M.A., dan Anang Wahid Cahyono, Lc., M.H.I. Selain Tim PSGAD, rapat juga diikuti oleh 14 relawan Teman Difabel yang telah menyatakan kesediaannya untuk mengambil bagian dalam menyukseskan pelaksanaan PBAK 2026.

Rapat berlangsung dalam suasana hangat, terbuka, dan penuh antusiasme. Para relawan tidak hanya hadir sebagai peserta rapat, tetapi juga menunjukkan kesiapan untuk belajar memahami kebutuhan mahasiswa difabel serta menjalankan peran pendampingan dengan penuh tanggung jawab. Kegiatan diawali dengan arahan dan bimbingan dari Kepala PSGAD, Dr. Umy Zahroh, M.Kes., Ph.D. In his speech, Bu Umy menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh relawan yang telah bersedia menjadi bagian dari Teman Difabel. Bu Umy juga menyampaikan Kesediaan menjadi relawan merupakan bentuk kepedulian sekaligus kontribusi nyata dalam membangun lingkungan kampus yang lebih ramah bagi semua mahasiswa. Menjadi relawan bukan semata-mata menjalankan tugas teknis selama PBAK, melainkan menjadi bagian dari gerakan bersama untuk memastikan tidak ada mahasiswa yang mengalami hambatan dalam memperoleh pengalaman akademik dan kemahasiswaan hanya karena kondisi kedifabelannya.

Dalam arahannya, Bu Umy juga menjelaskan bahwa kebutuhan terhadap pendampingan mahasiswa difabel pada PBAK tahun ini cukup besar. Berdasarkan data yang disampaikan oleh panitia PBAK, there is 173 mahasiswa difabel yang akan mengikuti kegiatan PBAK 2026. Para mahasiswa tersebut memiliki kondisi dan jenis kedifabelan yang beragam sehingga kebutuhan dukungan yang diberikan juga tidak dapat disamaratakan. Keragaman tersebut menjadi tantangan sekaligus panggilan bagi seluruh unsur kampus untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Pendampingan kepada mahasiswa difabel membutuhkan sensitivitas, komunikasi yang baik, kesabaran, serta pemahaman bahwa setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda. Because of that, kehadiran Teman Difabel menjadi salah satu bagian penting dalam membangun sistem pendampingan yang lebih responsif. Relawan diharapkan mampu menjadi teman yang membantu ketika mahasiswa difabel menghadapi hambatan, memberikan informasi ketika dibutuhkan, membantu menghubungkan mahasiswa dengan pihak terkait, serta memastikan mereka dapat mengikuti kegiatan sesuai kapasitas dan kebutuhannya.

Further, Bu Umy menegaskan bahwa keterlibatan relawan Teman Difabel merupakan tindak lanjut dari arahan pimpinan universitas, khususnya Bapak Rektor UIN SATU Tulungagung, Prof. Dr. H. Abdul Aziz, M.Pd., Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof. Dr. H. Badruzzaman Century, L.c., M.Ag. dan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan. Prof. Dr. H. Syamsun Niam, M.Ag., Head of LP2M, Prof. Dr. Drink Naim, M.H.I., beserta seluruh jajaran pimpinan lainnya yang tidak bisa disebutkan kesemuanya satu persatu. Arahan tersebut menunjukkan bahwa isu inklusivitas bukan hanya menjadi tanggung jawab PSGAD, tetapi merupakan perhatian kelembagaan yang harus didukung bersama. Thus, keterlibatan Teman Difabel merupakan bagian dari upaya kampus untuk menghadirkan layanan pendidikan yang lebih setara. PBAK sebagai pintu awal mahasiswa memasuki kehidupan perguruan tinggi harus mampu menjadi ruang yang memberikan pengalaman positif bagi seluruh mahasiswa, termasuk mahasiswa difabel.

Arahan berikutnya disampaikan oleh Dr. Zulva Ismawati, M.Pd. On this occasion, beliau memberikan penjelasan mengenai aspek teknis pelaksanaan kegiatan sekaligus menekankan pentingnya peran relawan dalam mendampingi mahasiswa difabel. Teman Difabel tidak ditempatkan hanya sebagai tenaga bantuan teknis. More than that, relawan diharapkan mampu membangun relasi yang humanis dengan mahasiswa yang didampingi. Kata “Teman” menjadi penting karena pendekatan yang dibangun bukanlah hubungan antara pihak yang membantu dan pihak yang dianggap tidak mampu, melainkan hubungan antarsesama mahasiswa yang saling mendukung. Pendampingan yang baik juga harus tetap memperhatikan kemandirian mahasiswa difabel. Relawan tidak diperkenankan mengambil alih seluruh aktivitas mahasiswa tanpa mempertimbangkan keinginan dan kemampuan mahasiswa yang bersangkutan. Bantuan diberikan ketika memang dibutuhkan, dengan tetap menghargai pilihan, privasi, dignity, dan otonomi mahasiswa difabel.

Dalam konteks tersebut, komunikasi menjadi salah satu kunci utama. Relawan perlu membangun kebiasaan untuk bertanya terlebih dahulu mengenai bantuan yang dibutuhkan, bukan langsung berasumsi bahwa mahasiswa difabel selalu membutuhkan pertolongan. Pendekatan semacam ini penting agar semangat membantu tidak justru berubah menjadi tindakan yang membuat mahasiswa merasa tidak nyaman atau kehilangan kemandiriannya. Besides that, Dr. Zulva juga memberikan gambaran mengenai berbagai hal teknis yang perlu diperhatikan selama pelaksanaan PBAK. Koordinasi antarrela­wan, komunikasi dengan panitia, pemahaman terhadap lokasi kegiatan, kesiapan menghadapi perubahan situasi, serta kemampuan merespons kebutuhan mahasiswa menjadi bagian penting yang harus dipersiapkan sejak awal.

Setelah arahan dari Kepala PSGAD dan Dr. Zulva, kegiatan dilanjutkan dengan penguatan dari anggota Tim PSGAD lainnya. Dr. Samsul Rifai, M.Pd.I. memberikan tambahan perspektif mengenai pentingnya membangun budaya saling membantu di lingkungan kampus. According to him, semangat inklusi perlu diterjemahkan dalam tindakan nyata. Kehadiran Teman Difabel menjadi salah satu bentuk bagaimana nilai kepedulian dan kebersamaan dapat diwujudkan dalam kehidupan kampus. Meanwhile, Bapak Erwan Efendi, M.A. turut memberikan arahan terkait pentingnya koordinasi dan kesiapan relawan. Dalam kegiatan yang melibatkan ratusan mahasiswa dengan kondisi yang beragam, koordinasi menjadi faktor penting agar setiap kebutuhan dapat ditangani dengan baik dan tidak terjadi miskomunikasi antara relawan, student, dan panitia. Adapun Bapak Anang Wahid Cahyono, Lc., M.H.I. memberikan penguatan tambahan terkait pentingnya membangun pendekatan yang humanis dalam menjalankan tugas sebagai relawan. Menjadi Teman Difabel membutuhkan kepekaan untuk melihat mahasiswa bukan berdasarkan keterbatasannya, melainkan sebagai individu yang memiliki potensi, hak, aspirasi, dan kesempatan yang sama untuk berkembang.

Berbagai arahan tersebut memperkaya pemahaman para relawan bahwa tugas mereka bukan hanya berkaitan dengan teknis pendampingan selama PBAK. Further, mereka menjadi bagian dari proses membangun ekosistem kampus yang semakin sadar terhadap keberagaman. 14 Relawan dengan Semangat yang Sama, mereka berasal dari berbagai prodi yang tersebar di berbagai fakultas di UIN SATU Tulungagung, dan berasal dari Tingkat semester yang berbeda-beda. As much 14 relawan yang tergabung dalam Teman Difabel menunjukkan semangat dan antusiasme yang tinggi sepanjang kegiatan. Kehadiran mereka menjadi energi positif dalam persiapan pelaksanaan PBAK 2026. Para relawan menyadari bahwa pengalaman pertama mahasiswa memasuki dunia perguruan tinggi merupakan momentum penting. Because of that, mahasiswa difabel juga harus memperoleh kesempatan yang sama untuk merasakan suasana PBAK, berkenalan dengan lingkungan kampus, membangun pertemanan, mengenal berbagai fasilitas, serta memperoleh informasi akademik dan kemahasiswaan.

Teman Difabel diharapkan mampu hadir sebagai sosok yang dekat dan mudah diakses. Ketika mahasiswa difabel menghadapi kesulitan, mereka memiliki tempat untuk bertanya dan meminta bantuan. Ketika membutuhkan informasi, ada relawan yang dapat membantu menghubungkan dengan pihak yang tepat. Dan ketika menghadapi hambatan, ada orang-orang yang siap memastikan bahwa mereka tidak menghadapinya sendirian. Semangat inilah yang diharapkan tumbuh dalam pelaksanaan PBAK 2026. Inklusi tidak cukup hanya diwujudkan melalui kebijakan atau slogan, tetapi harus hadir dalam interaksi sehari-hari.

PBAK pada hakikatnya merupakan gerbang awal mahasiswa mengenal kehidupan perguruan tinggi. Di sinilah mahasiswa mulai membangun kesan pertama tentang kampus, lingkungan akademik, organisasi kemahasiswaan, lecturer, educational staff, dan sesama mahasiswa. Because of that, pengalaman mahasiswa difabel selama PBAK juga menjadi bagian penting dalam membangun persepsi mereka terhadap kampus. Ketika mahasiswa merasa diterima, dihargai, dan mendapatkan dukungan yang memadai, maka rasa percaya diri dan rasa memiliki terhadap kampus akan tumbuh. On the contrary, ketika mereka menghadapi hambatan tanpa dukungan yang memadai, pengalaman awal tersebut dapat menjadi persoalan tersendiri. Therefore, memastikan PBAK berjalan secara inklusif bukan sekadar persoalan pelayanan, tetapi juga merupakan bagian dari pembangunan budaya akademik yang menghargai keberagaman.

Kehadiran PSGAD bersama Teman Difabel menjadi langkah strategis untuk memastikan nilai tersebut hadir sejak mahasiswa pertama kali menginjakkan kaki di lingkungan kampus. Kampus inklusif bukan berarti memberikan perlakuan khusus yang berlebihan kepada kelompok tertentu. Kampus inklusif adalah kampus yang mampu mengenali keberagaman kebutuhan, menyediakan dukungan yang diperlukan, serta menghilangkan hambatan agar setiap mahasiswa dapat berpartisipasi secara bermakna. Dalam konteks inilah Teman Difabel mendapatkan makna penting. Mereka bukan sekadar relawan PBAK, tetapi menjadi bagian dari wajah kampus dalam menyambut mahasiswa difabel.

Rapat awal persiapan Teman Difabel akhirnya tidak hanya menjadi agenda koordinasi teknis. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama bahwa inklusivitas membutuhkan keterlibatan banyak pihak. PSGAD sebagai pusat studi memiliki peran penting dalam memberikan penguatan perspektif gender, child, and disabled. Pimpinan universitas memberikan dukungan kebijakan. Panitia PBAK menjalankan koordinasi kegiatan. Sementara para relawan hadir sebagai garda terdepan dalam memberikan pendampingan langsung kepada mahasiswa difabel. Kolaborasi tersebut menjadi modal penting untuk menciptakan pelaksanaan PBAK yang lebih ramah dan responsif terhadap keberagaman. Dengan jumlah mahasiswa difabel yang mencapai 173 orang dan keberagaman kondisi yang mereka miliki, tentu tidak semua kebutuhan dapat diprediksi sejak awal. Because of that, kesiapan untuk berkoordinasi, belajar, adapt, dan saling membantu menjadi hal yang sangat penting. Teman Difabel pun diharapkan tidak hanya bekerja berdasarkan pembagian tugas, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap situasi di lapangan. Jika menemukan kebutuhan yang belum terakomodasi, relawan dapat menyampaikannya kepada Tim PSGAD maupun panitia untuk dicarikan solusi bersama.

Pada akhirnya, keberhasilan PBAK 2026 tidak hanya diukur dari lancarnya jadwal dan terlaksananya seluruh rangkaian acara. Keberhasilan juga dapat dilihat dari sejauh mana seluruh mahasiswa, termasuk mahasiswa difabel, dapat mengikuti kegiatan dengan aman, comfortable, dihargai, dan memperoleh kesempatan yang setara.

Rapat persiapan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara Kepala PSGAD, Tim PSGAD, dan seluruh relawan Teman Difabel. Senyum dan antusiasme yang terpancar dari para relawan menjadi penanda awal sebuah ikhtiar bersama.

Dari ruang rapat tersebut, sebuah pesan penting kembali diteguhkan: membangun kampus inklusif bukan pekerjaan satu lembaga, melainkan kerja bersama seluruh warga kampus. Teman Difabel hadir sebagai bagian dari ikhtiar tersebut. Mereka menjadi teman yang siap mendampingi, membantu, dan memastikan bahwa keberagaman tidak menjadi alasan bagi siapa pun untuk tertinggal. Karena kampus yang inklusif bukan kampus yang sekadar membuka pintu untuk semua, tetapi kampus yang memastikan setiap orang dapat masuk, berpartisipasi, merasa aman, dihargai, dan tumbuh bersama. Bersama Teman Difabel, PBAK 2026 menjadi langkah awal untuk menghadirkan kampus yang lebih ramah, setara, dan inklusif bagi semua.

Reporter: Mustaqim in’am Al Qodri

Editor: Zulva Ismawati

Close